Sukses film karya sutradara Bryan Singer, Bohemian Rhapsody, tidak hanya pada capaian box office

52

DRADIOQU.COM – Jakarta, Sukses film karya sutradara Bryan Singer, Bohemian Rhapsody, tidak hanya pada capaian box office, yang hingga kini telah mencatatkan penghasilan hingga US$ 46 juta di Amerika saja. Keunggulan film ini juga terletak pada keberhasilan sang sutradara bersama kru menghidupkan kembali konser Live Aid di Stadion Wembley, Inggris, pada 13 Juli 1985.

Konser Live Aid 1985 digelar untuk menggalang dana bagi korban kelaparan di Afrika. Konser diadakan di beberapa negara. Karena ada masalah di internal grup, Queen nyaris tidak bisa tampil di Wembley. Selain Queen, bintang lain yang meramaikan konser adalah band The Who dan David Bowie. Pangeran Charles dan Putri Diana ikut menyaksikan konser itu secara langsung.

“Film ini dimulai dengan Freddie (Freddie Mercury, vokalis Queen) tiba di stadion dan kamera menyoroti dia dari belakang saat berjalan dari ruang ganti melalui area belakang panggung dan naik ke panggung. Setelah melompak kecil, Freddie lalu menarik tirai ke samping untuk melihat kerumunan besar (penonton) yang menunggu mereka. Setelah itu kami menyuguhkan cerita kilas balik. Ini membentuk alur cerita dramatik dari seluruh film,” ujar penata kamera Bohemian Rhapsody, Newton Thomas Sigel seperti dikutip dari Variety.com, Sabtu (3/11).

Film Bohemian Rhapsody memang diawali dengan salah satu pertunjukan paling ikonik Queen, yakni penampilan selama 20 menit di Stadion Wembley untuk konser Live Aid 1985. Lagu-lagu hits mereka dibawakan Queen saat itu, antara lain Bohemian Rhapsodhy, Radio Ga Ga, We Are The Champions, Another One Bites the Dust, dan We Will Rock You.

Tentu tidak mudah bagi Singer dan Thomas Sigel untuk menghidupka kembali konser yang disaksikan langsung oleh 72.000 penonton di Stadion Wembley dan lebih dari 1,5 miliar pemirsa televisi kala itu. Apalagi, konser Live Aid itu telah berlangsung 33 tahun lalu.

“Wembley telah banyak dirombak sejak Live Aid dan kami akhirnya mengambil gambar di Bovingdon Airfield, di luar Kota London. Kami membangun replika dari panggung asli sampai ke menara panggung serta semua spanduk, tanda-tanda dan peralatan musik. Memang, kala itu panggung konser tidak dibuat mewah, karena panitia fokus pada penggalangan dana, karena seluruh gagasan Live Aid adalah mengumpulkan uang, tidak menghabiskan banyak uang untuk pementasan spektakuler. Jadi, lebih fokus pada band dan musik,” kata Thomas Sigel.

Meski demikian, harus diakui bahwa Singer, Thomas, dan kru lainnya mampu menghadirkan detil dari konser tersebut. Singer sangat memperhatikan detil dari konser, antara lain gelas Pepsi di atas piano Freddie, gaya Freddie yang membungkuk sambil membelakangi penonton, hingga dua orang yang menonton di atas kerangka menara sebelah kanan panggung.

“Kami menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari rekaman asli. Brian May (gitaris Queen) dan Roger Taylor (penabuh drum Queen) adalah bagian integral dalam memastikan semua musik dan para aktor mendapatkan gerakan yang benar,” ujar produser Graham King.

Dia menekankan bahwa konser Live Aid merupakan bagian yang sangat penting dari keseluruha cerita. Sebab, penampilan Queen saat itu memang menarik perhatian orang-orang di seluruh dunia. “Semula, tujuan konser untuk menggalang dana tidak berhasil sampai Freddie dan Queen datang. Tiba-tiba banyak orang yang memberikan uang mereka untuk amal,” ujar King.

Thomas Sigel menghabiskan waktu sekitar dua pekan untuk pengambilan gambar dari udara saat adegan puluhan ribu penonton memenuhi Wembley. Selain itu, dia juga menggunakan teknologi computer-generated imagery (CGI) untuk menghidupkan keriuhan ribuan penonton tersebut.

Menyaksikan rekaman asli Queen pada konser Live Aid 1985 sangat berbeda dengan penampilan mereka di film Bohemian Rhapsody. Performa Queen di film ini sangat menggetarkan, karena Singer berhasil menampilkan kisah drama sebelum akhirnya Freddie dan Queen memutuskan ikut tampil di Live Aid 1985 bersama bintang-bintang lain.

Atas kerja keras Singer, Thomas Sigel, dan kru Bohemian Rhapsody lainnya, maka rasanya layak bila penonton memberikan standing ovation pada akhir film.

Comments are closed.