Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Selat Sunda Diguncang Tsunami, Sadarkah Kita?

0 53

Oleh : Haris Amrin

DRADIOQU.COM  – “Innalillahi wa Inna Ilaihi Raajiun”, Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepadanya. Belum kering air mata duka akibat tsunami Palu, Tsunami kembali menghempas Selat Sunda, Banten dan Lampung. Bahkan diiperkirakan akan ada tsunami susulan.

Sampai tulisan ini dibuat, Ahad (23/12/2018), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, jumlah korban tewas tercatat 222 orang meninggal dunia, 843 orang luka-luka dan 28 orang hilang. 556 unit rumah rusak, 9 Unit hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, dan 350 perahu rusak.

Bagi orang beriman bencana ini dipahami sebagai qadha yang tak mampu ditolak, kita terpaksa menerimanya. Seandainya, orang disekitar pantai tahu bahwa tsunami akan datang di Selat Sunda, maka saya yakin jauh hari mereka sudah menjauh dari pantai.

Jika group band seveenten sudah punya informasi bahwa malam itu akan terjadi tsunami pasti akan membatalkan konsernya. Begitu juga dengan Artis-artis, bayaran berapa pun tidak akan menerima tawaran menyanyi dalam Gatering PLN malam nas itu seandainya sudah ada peringatan dari BMKG setempat. Tapi semuanya menjadi rahasia Allah Swt.

Karenanya, datangannya tsunami, manusia tidak dihizab atas kejadian tersebut. Berapa pun dasyatnya, manusia hanya dihizab atas perbuatan yang dilakukan dalam hidupnya. Disinilah Allah Swt mengingatkan orang yang beriman agar akhir hayatnya tetap dalam keadaan beriman, diakhir kematiannya terucap kalimat tauhid. Tetap dalam ketaatan dan ketundukan kepada Allah hingga maut menjemputnya.

Karenanya, tsunami tidak perlu ditakuti. Tsunami hanyalah salah cara Allah mencabut roh hambaNya. Kematian seseorang bukan karena tsunami tapi sampainya ajalnya. Buktinya, banyak orang yang dihempas tsunami dengan sangat kencang, tapi mereka tetap hidup. Penyanyi group seveenten yang terlempar sampai di laut tapi belum juga mati. Mengapa?, Itu karena ajalnya belum tiba.

Ajal tidak satupun manusia yang mengetahui kapan datangnya. Bisa saja sementara diatas kapal tiba-tiba tenggelam, mati. Di iatas pesawat tiba-tiba jatuh, naik kendaraan kecelakaan, atau mungkin sementara duduk tiba-tiba mati, sementara sujud tiba-tiba tidak bisa bangun lagi. Semua ini hanya kondisi. Beda kondisi beda penyebab.

Maka, yang mestinya dimaksimalkan adalah persiapan menuju kematian. Bagaimana ketaatan dan ketundukan kita terhadap seluruh hukum syarah yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kita, baik pada tataran pribadi maupun pada tingkat negara?.

Bagaimana penghargaan pemimpinnya terhadap para ulama dan pengembang dakwah?, bagaimana penjagaan negara terhadap Islam sebagai sistem kehidupan yang bersumber dari Allah Swt dan RasulNya.

Bagaimana sistem pemerintahannya, apakah diridhai Allah Swt atau tidak?. Sistem ekonomi kita, apakah sesuai Alquran atau tidak?, apakah ekonomi negara ini telah mensejahterakan rakyat atau hanya menguntungkan para kapitalis saja?

Bagaimana sistem sosial kita, apakah aturannya mengikuti jejak barat atau bersumber dari Allah Swt?, bagaimana penjagaan negara terhadap wanita muslimah yang menutup auratnya?. Bagaimana pengaturan hubungan laki-laki dan perempuan dalam ranah publik dan domestik?.

Jika tidak, maka seluruh komponen bangsa ini sudah waktunya taubat nasuha. Bukan hanya rakyatnya tapi para pemimpinnya yang telah diserahi amanah untuk mengurusi urusan rakyatnya.

Negara sudah saatnya mencampakkan kapitalisme yang menjadi biang kerok masalah yang mendera bangsa ini sampai ke akar-akarnya, menutup semua ruang tumbuhnya kapitalisme. Negara tidak bisa menunda lagi untuk segera menerapkan hukum Allah secara kaffah.

Dengan cara inilah Allah bisa meridhai bangsa ini dan menurunkah berkah dari langit dan bumi. Allah Swt berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96).

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Bahwa hati mereka beriman kepada apa yang disampaikan oleh rasul-rasul, membenarkannya, mengikutinya, dan bertakwa dengan mengerjakan amal-amal ketaatan dan meninggalkan semua yang diharamkan.

Maka apalagi yang menghalangi kita untuk segera meraih ridhanya Allah Swt. Atau belum cukupkah bencana yang terjadi dimana-mana menyadarkan kita, ataukah kita menunggu bencana yang lebih dasyat lagi baru tergerak hati kita. Tidak!, jangan sampai itu terjadi!. Yakin saja kalian tidak akan sanggup menghadapinya. Wallahu a’lam bi ash shawab.

Leave A Reply

Your email address will not be published.