Sebuah kapal perang milik Amerika Serikat berlayar melintasi perairan Kepulauan Spratly yang masih menjadi sengketa di Laut China Selatan

0 54

DRADIOQU.COM – Sebuah kapal perang milik Amerika Serikat berlayar melintasi perairan Kepulauan Spratly yang masih menjadi sengketa di Laut China Selatan, menurut keterangan Pentagon, Minggu (30/9) waktu setempat.

Manuver ini dilakukan dengan sengaja, untuk menentang secara terang-terangan klaim teritorial sepihak oleh Tiongkok di kawasan tersebut.

“Kapal destroyer peluncur rudal USS Decatur menjalankan operasi freedom of navigation (kebebasan bernavigasi),” kata seorang pejabat Pentagon seperti dikutip AFP.

“Decatur berlayar dalam jarak 12 mil laut dari karang Gaven and Johnson di Kepulauan Spratly.”

Pejabat tersebut mengatakan semua operasi militer Amerika di area itu “dirancang sesuai dengan hukum internasional dan mendemonstrasikan bahwa Amerika Serikat akan terbang, berlayar, dan beroperasi di mana pun yang diperbolehkan oleh hukum internasional.”

Jarak 12 mil secara umum dianggap sebagai batas teritori perairan dari sebuah daratan. Beijing mengklaim semua gugus Spratly sebagai miliknya.

Hingga saat ini belum ada tanggapan dari Tiongkok, tetapi ketika AS melakukan operasi serupa Juli lalu di dekat Kepulauan Paracel, Beijing bereaksi dengan marah dan mengirim jet tempur serta kapal-kapal militer.

Baca juga: Tantang Tiongkok, AS Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan

Kepulauan Paracel, yang terletak di sebelah utara Kepulauan Spratly, menjadi objek sengketa wilayah antara Tiongkok, Taiwan, dan Vietnam.

Pada 25 Mei, kapal perang USS Dewey berlayar kurang dari 12 mil laut dari Kepulauan Spratly.

Tiongkok mengklaim hampir semua area di Laut China Selatan, meskipun Taiwan, Filipina, Brunei, Malaysia, dan Vietnam juga mengklaim punya hak atas sebagian wilayah.

Negara-negara itu dan juga AS makin marah setelah Beijing bertindak agresif untuk mengubah karang menjadi pulau buatan yang mampu didarati pesawat militer.

Hubungan AS-Tiongkok diwarnai sejumlah sengketa sejak Donald Trump dilantik sebagai presiden pada 2017. Perang dagang yang dilancarkan Trump membuat murka Beijing, demikian juga keputusannya menjual persenjataan senilai US$ 1,3 miliar kepada Taiwan, yang oleh Tiongkok dianggap sebagai provinsi yang memberontak.

Sumber: AFP

Leave A Reply

Your email address will not be published.