Nasib para pedagang media cetak seperti koran, majalah, dan tabloid semakin tidak menentu

0 215

DRADIOQU.COM – Dalam setiap pergeseran budaya, selalu ada korban. Nasib para pedagang media cetak seperti koran, majalah, dan tabloid semakin tidak menentu setelah masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan beragam informasi dengan telepon seluler dalam genggaman, kapan saja dan di mana saja.

Paling tidak, seperti yang dirasakan pria paruh baya bernama Purwo, dia tidak lagi menikmati riuhnya permintaan koran setiap hadirnya pagi. Lalu lalang jutaan orang dan ribuan kendaraan saat menyambut hari baru tiba di ibu kota seperti mengabaikan informasi yang dicetak di atas kertas.

“Sekarang mah udah beda sama tahun-tahun yang dulu, beda jauh. Dulu penjualan hampir seratus persen. Dulu kan istilahnya koran Kompas bisa sampai 200 lembar, sekarang sampai 12, 15 aja nggak habis,” ucap Purwo, 44, saat ditemui Beritasatu.com, Senin (10/9).

Purwo yang memiliki kios majalah, tabloid, dan suratkabar di wilayah Cibubur itu sangat merasakan kemerosotan hasil penjualan sejak harga smartphone makin terjangkau dan akses internet makin mudah.

Kemudian, hampir semua media arus utama termasuk nama-nama besar dalam industri suratkabar telah memiliki situs berita sehingga makin mengurangi kebutuhan masyarakat atas media cetak.

Saat ini, ada lebih dari 45.000 situs berita online di Indonesia meskipun sebagian besar tidak jelas pengelolaannya. Namun satu hal sudah jelas, masyarakat sudah mendapatkan terlalu banyak sumber informasi melalui ponsel mereka.

Satu hal yang membuat Purwo bertahan adalah para pelanggan setianya, yang masih rajin berkunjung ke kios dia meskipun mereka semua juga sudah memiliki smartphone.

“Saya bertahan karena pelanggan aja, yang udah lama-lama. Kita nggak enak kalau mau langsung ditinggal,” katanya.

Padahal, Purwo juga sadar bahwa sekarang orang-orang lebih memilih portal berita digital atau online untuk mengakses berita sesuai kebutuhannya.

Selama hampir 10 tahun menjual media cetak, Purwo merasakan manis pahitnya bisnis ini. Ia juga mengklaim sudah paham betul perilaku pelanggan, mana yang benar-benar menghargainya dan mana yang hanya menganggap remeh pekerjaannya.

Bapak satu anak ini mengatakan pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, bahkan sebagian besar merupakan orang-orang dari kalangan menengah ke atas.

Meski produk yang dia jual bukan barang mahal, Purwo mengatakan sebagian pelanggannya masih kerap menawar sebelum membeli, bahkan orang-orang yang menurut penilaiannya cukup berada.

“Kita juga ngasih ke pelanggan kita kurangi Rp 500, kalau harga eceran Rp 4.500, kasih pelanggan Rp 4.000, kita kan tetap untung walaupun nggak banyak,” katanya.

Lalau bagaimana dia bisa mencukupi kebutuhan sendiri ketika margin keuntungan dagangannya makin menipis?

Purwo mengatakan selain berjualan koran ia juga menjual mi ayam. Sore hari setelah menjual koran, Purwo akan berkeliling sekitar Cibubur untuk menjajakan mi ayam hingga pukul 21.00 WIB.

Di akhir perjumpaan, Purwo bersama istrinya, Siti, mengatakan bertekad akan terus berjualan media cetak “sampai koran dan majalah tidak lagi dicetak dan benar-benar tergantikan”.DIO/DPW

Leave A Reply

Your email address will not be published.