Naila mengaku sebagai penerjun profesional bukan berarti bebas dari rasa takut

0 28

DRADIOQU.COM – Bicara olahraga dirgantara khususnya terjun payung, nama Naila Novaranti mungkin sudah tak asing lagi. Wanita kelahiran Jakarta 1981 ini dikenal sebagai atlet terjun payung dunia, sekaligus instruktur profesional terjun payung dunia yang melatih para penerjun payung baik dari kalangan militer maupun sipil di 46 negara di dunia.

Dalam perjalanan hidupnya, mungkin Naila tak pernah menyangka sukses menjadi seorang penerjun payung. Sebelum menjadi penerjun payung, Naila berprofesi sebagai sekertaris dan marketing di sebuah perusahaan parasut terjun payung asal Amerika.

Berawal dari coba-coba produk parasut untuk terjun payung, Naila kini menjadi srikandi Indonesia yang mampu menaklukan angkasa.

“Tahun 2001 saya bekerja di perusahaan dengan jabatan sebagai seorang sekretaris. Lalu merasa kurang ada tantangan, saya akhirnya memutuskan hengkang dan memilih pekerjaan sebagai marketing di perusahaan parasut terjun payung di Amerika. Tahun 2009 akhirnya memutuskan mencoba terjun payung, meski saat itu saya hanya tandem dengan seorang penerjun profesional. Dari situ, saya memutuskan untuk ikut kursus dan memulai karier penerjun,” ungkap Naila, Kamis (27/9).

Naila mengaku sebagai penerjun profesional bukan berarti bebas dari rasa takut. Sampai saat ini, Naila masih merasa takut yang luar biasa saat terjun. Bahkan akibat olahraga ekstrim ini, Naila sering mendapat cedera seperti patah kaki, patah rusuk, patah tulang ekor, dan pergelangan tangan patah.

“Kalau ditanya apakah saya takut, itu pasti. Namun keinginan saya untuk maju bisa melawan rasa takut itu, meski saya tahu resiko besar selalu menghadang saat berada di angkasa untuk terjun payung. Tetapi saya bersyukur kepada Allah, keluarga tidak pernah melarang saya untuk terjun payung,” ceritanya.

Bagi Naila, keputusannya untuk menjadi atlet dan penerjun profesional bukan hanya perkara mengatasi ketakutan saja. Ada hal positif dari olahraga tersebut, yakni pandangan orang tentang penerjun payung adalah olahraga mahal. Memang untuk menggeluti bidang ini dibutuhkan biaya yang besar.

“Untuk satu paket 10 kali terjun itu biayanya lumayan mahal kira-kira Rp 25-30 juta. Sedangkan kalau mau tandem bisa lima jutaan. Itu baru dari biaya terjun, untuk biaya peralatan seperti parasutnya, helm, dan berbagai perlengkapan lainnya angkanya bisa seperti harga sebuah mobil SUV baru. Itu yang menyebabkan olahraga ini dikenal sebagai olahraga mahal,” papar Naila.

Tak hanya itu, perizinan untuk terjun pun susah lantaran di Indonesia rata-rata terjun payung itu dengan pihak militer. Belum lagi diskriminasi terhadap penerjun wanita membuat langkah Naila tersendat.

“Untung semua sudah dilalui. Sekarang saya dipercaya melatih para penerjun pemula di 46 negara hingga penerjun dari kalangan TNI dan Polri, itu yang patut saya syukuri,” tegasnya.TT

Leave A Reply

Your email address will not be published.