Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menyatakan bila dari hasil tim investigasi pencari fakta tragedi berdarah Persib Bandung terbukti bersalah

0 44

DRADIOQU.COM – Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menyatakan bila dari hasil tim investigasi pencari fakta tragedi berdarah Persib Bandung terbukti bersalah, maka klub tersebut bisa disanksi hingga hukuman terbesar yakni didiskualifikasi dari kompetisi atau didegradasikan dari Liga 1.

Hal ini terkait meninggalnya suporter Persija, Haringga Sirila oleh oknum suporter Persib Bandung Bobotoh sebelum partai Persib vs Persija Jakarta dimulai pada Minggu (23/9), di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

“Saya belum bisa berkomentar lebih jauh, namun kemungkinan sanksi terberat itu selalu ada. Berdasarkan acuan Kode Disiplin PSSI 2018 diaturnya seperti demikian, dari mulai teringan berupa teguran atau denda sampai yang terberat diskualifikasi. Mereka bisa dikeluarkan dari kompetisi liga yang sedang berjalan. Kita tunggu saja hasil investigasi dan sidang Komdis PSSI,” ujar Ketua Komdis PSSI, Asep Edwin Firdaus ketika dihubungi SP, Jumat (28/9).

Nantinya hasil tim investigasi akan menjadi rekomendasi bagi pihak Komdis untuk memutuskan hukuman apa saja dan siapa saja yang terbukti bersalah dalam kasus kematian suporter di GBLA. “Saat ini permasalahan ini masih tengah dibahas. Semoga pekan ini atau hari ini Jumat (28/9) sudah ada hasilnya,” jelas Asep.

Ganesport Institute sebagai lembaga penelitian kebijakan olahraga mendesak PSSI melalui Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk menerapkan sanki berat terkait kasus pembunuhan suporter Haringga Sirila.

Direktur Eksekutif Ganesport Institute, Amal Ganesha mengatakan melalui kajian dalam ranah hukum olahraga (lex sportiva) PSSI dapat memberikan hukuman dengan efek jera berat kepada kedua klub, khususnya dalam hal ini Persib yang sebagian oknum suporternya terbukti melakukan pembunuhan keji kepada Haringga.

“Hasil kajian kami menyarankan untuk Komisi Disiplin PSSI dan operator Liga Indonesia Baru segera memberikan hukuman berat kepada kedua klub. Mengingat kejadian ini terus berulang dan kami merasa pembunuhan terhadap Haringga merupakan titik terendah perilaku kekerasan suporter sepakbola Indonesia, maka kami menyarankan hukuman yang diberikan pun harus mencerminkan titik terberat agar ada efek jera yang ultra maksimal,” kata Amal.

Bila merujuk pada Kode Disiplin PSSI Tahun 2018, PSSI berhak menjatuhkan sanksi apapun yang diatur dalam Kode Disiplin untuk jenis tindakan kekerasan kepada orang atau objek tertentu. Dengan demikian, PSSI selaku otoritas tertinggi memiliki ruang kewenangan yang luas untuk menentukan jenis sanksi yang sepadan dengan perbuatan penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

“Dalam Kode Disiplin tersebut, terutama di pasal 25 dan pasal 26, PSSI sangat berhak menghukum berat klub yang bersangkutan,” lanjutnya.

Menurutnya opsi sanksi rekomendasi Ganesport Institute berdasar kepada Kode Disiplin PSSI yakni pengurangan 12 poin kepada klub yang suporternya terbukti melakukan pembunuhan kepada suporter lain, mengeluarkan atau mencabut lisensi klub terkait dari kompetisi, dalam hal ini Liga 1 atau mendegradasikan klub terkait ke kasta lebih rendah, dalam hal ini dari Liga 1 ke Liga 2.

Namun ada juga opsi lain bila merujuk pada preseden yang terjadi di Eropa pada tragedi Heysel di tahun 1985. Ketika itu, federasi sepak bola Eropa UEFA menjatuhkan sanksi berat, yaitu melarang klub-klub Inggris berkompetisi di Eropa selama lima tahun akibat tragedi yang memakan 39 nyawa korban suporter Juventus dalam laga antara Juventus v Liverpool di Liga Champions, di Heysel, Belgia.

Rekomendasinya adalah setiap laga Persib melawan Persija dalam kompetisi apapun di Indonesia, dilaksanakan tanpa penonton selama 5 tahun, efektif sejak sanksi dikeluarkan atau setiap laga Persib vs Persija di kompetisi apapun di Indonesia tidak dipertandingkan selama 5 tahun dan diganti dengan skor imbang 0-0, efektif sejak sanksi dikeluarkan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.