Ketika hendak menyibak cerita pilu masa lalu Kampung Vietnam, Pulau Barelang

0 39

DRADIOQU.COM – Ketika hendak menyibak cerita pilu masa lalu Kampung Vietnam, Pulau Barelang, Batam, Kepulauan Riau, lidahnya menjadi kelu. Berusaha menahan gejolak rasa, ia membuka kata dengan suara bergetar.

“Setelah berlabuh, para pengungsi dari Vietnam itu tidur di atas ilalang mengikuti miringnya bukit pagoda ini. Kesulitan air, tak ada tempat buang hajat. Beberapa di antaranya menderita sakit, dan banyak yang kemudian meninggal,” katanya.

“Cipto.” Ia menjawab pertanyaan tentang namanya. Berusia sekitar 80-an tahun, pria berkulit putih dan sepertinya keturunan Tionghoa.

“Benar. Saya memang bukan Jawa. Namun, sedari kecil nama saya Cipto, lengkapnya Cipto Minarto,” katanya kepada Beritasatu.com yang berkunjung pada Minggu (29/7).

Cipto mengatakan telah berada di camp Vietnam sejak 1979. Ia menjadi salah satu pengurus pagoda–tempat suci umat Buddha–Quan Am Tu, salah satu peninggalan bersejarah dari pengungsi Vietnam.

 

Warga Vietnam terdampar sebagai dampak perang saudara pada 1957-1975. Ketika itu, dua kubu ideologi besar, yakni komunis–kubu Demokratik Vietnam (Vietnam Utara)–dan liberal–kubu Republik Vietnam (Vietnam Selatan)–yang saling menghancurkan.

Perang makin membara lantaran keterlibatan sejumlah negara lain. Misalnya Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina bersekutu dengan Vietnam Selatan, sedangkan Uni Soviet dan Tiongkok mendukung Vietnam Utara yang berideologi komunis.

Jumlah korban tewas dalam perang tercatat lebih dari 280.000 jiwa di pihak Vietnam Selatan dan lebih dari 1.000.000 jiwa di pihak Vietnam Utara. Eksodus besar-besaran warga Vietnam ke negara lain tak terelakkan. Setelah perang berakhir,  kedua kubu Vietnam kembali bersatu pada 1976.

Namun, saat perdamaian itu terjadi, sebagian pengungsi justru masih terombang-ambing di tengah lautan dan sebagian kecil terdampar di Pulau Berelang pada 1977.

Camp ini disebut-sebut pernah menampung 205.000 pengungsi dari Vietnam. Sedangkan di dinding Museum Camp Vietnam, hanya ada data 4.627 orang lengkap dengan label nama-nama mereka. Adapun di kompleks kuburan pengungsi tercatat ada 503 makam.

Cipto mengaku melihat sendiri keadaan para pengungsi Vietnam di masa itu. “Mereka mengungsi ke sini pada 1977, mereka dibantu penduduk lokal dan memberi mereka makan,” katanya.

Cipto mengatakan pengungsi diminta kembali ke kampung halamannya pada 1979. “Namun banyak juga yang menolak. Ada yang sampai membakar dirinya sendiri sampai tewas, sebab tak mau balik ke Vietnam. Saya melihat sendiri kejadiannya. Sedih sekali,” katanya.

Sejenak membisu. Ia merenung, lalu matanya berkaca-kaca.

Kendati demikian, Cipto menambahkan, pada tahun itu juga para pengungsi kembali semuanya ke Vietnam. “Mereka berlayar dengan perahu-perahu yang membawa mereka ke sini,” katanya.

Jejak-jejak peninggalan para pengungsi Vietnam di atas lahan 80 hektare masih banyak di Barelang, tepatnya di jembatan enam. Berjarak 50 kilometer dari pusat Kota Batam, setiap hari ramai kawasan ini dikunjungi wisatawan.

Untuk berkunjung ke lokasi yang berada di selatan Pulau Batam, dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari Batam sekitar 1 jam melalui Jalan Trans-Barelang. Tak ada trayek kendaraan umum ke lokasi ini. Jadi, para pengunjung harus menggunakan jasa travel atau kendaraan pribadi.

Begitu tiba, di pintu gerbang bertuliskan Kawasan Wisata Pulau Barelang (Ex Camp Vietnam), ada petugas yang memungut biaya per pengunjung Rp 10.000.

Kawasan yang dikelola oleh BP Batam ini tertata rapi. Jalanan beraspal dan bersih. Penunjuk arah sangat jelas, sehingga pengunjung tak kebingungan. Sejumlah bekas peninggalan pengungsi Vietnam mulai ditata sesuai aslinya, di antaranya perahu yang digunakan pengungsi mengarungi lautan dari Vietnam ke Barelang. Saat ini peninggalan bersejarah tersebut sedang dibangun ulang.

Selain itu, beberapa barak pengungsian yang sudah ambruk telah dibangun kembali. Begitu juga dengan bekas bangunan lainnya, termasuk kantor United Nations High Commissioner for Refugees.

Kepala Sub Direktorat Humas BP Batam, M Taufan, mengatakan semua jejak bangunan bekas camp Vietnam itu akan dibangun dan direstorasi.

“BP Batam mempertahankan dan memelihara jangan sampai tempat yang bersejarah begitu saja musnah,” katanya.

Beberapa jejak telah runtuh dan tertimbun ilalang, seperti tempat karantina pengungsi, bekas rumah sakit, dan perkantoran. Begitu juga dengan tempat ibadah, seperti pagoda, gereja, dan musala, yang pernah digunakan pengungsi akan ditata lagi.

Hingga kini Pagoda Quan Am Tu tetap hidup dan rutin menjadi tempat ibadah umat Buddha yang datang dari berbagai daerah dan negara lain. Begitu juga gereja Katolik yang sudah tua. Gereja yang dibangun dari kayu, setiap hari Minggu menjadi tempat ibadat umat Kristiani.

Selain restorasi, kata Taufan, BP Batam merencanakan mengisi berbagai kegiatan di camp Vietnam untuk menarik para wisatawan berkunjung ke sini.

“Fasilitasnya akan kita lengkapi, termasuk mengumpulkan benda-benda kecil, seperti tungku masak sedang dibersihkan dan akan diletakkan kembali di tempatnya,” katanya.

Begitu juga dengan sejumlah foto sedang direproduksi untuk dipamerkan di museum. “Sekarang sedang dicari file-file yang terpencar-pencar. Semoga akan terkumpul semuanya,” ujar Taufan.

Suasana camp pengungsi yang selama ini dirasakan seram juga akan dihilangkan. “Nanti dijadikan tempat rekreasi yang lebih ke wisata alam, outbond, dan camping. Pengunjung menikmati sejarah dan tidak seram,” kata Taufan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.