Di Sulawesi, para penganut agama tua aluk to dolo di Toraja merayakan kematian

0 62

DRADIOQU.COM – Di Sulawesi, para penganut agama tua aluk to dolo di Toraja merayakan kematian dengan cara yang berbeda. Orang yang sudah meninggal dirias dan didudukkan, bagai pengantin di kursi pelaminan. Hampir tak ada air mata di wajah keluarga yang ditinggalkan. Yang ada justru gelak tawa penuh keceriaan, seolah ini adalah ajang reuni keluarga besar.

Di Lombok, suku Sasak di pedalaman pegunungan Rinjani mengimani agama tua Wetu Telu. Ritual-ritual mereka sangat dekat dengan alam. Pada hari raya Idul Fitri misalnya, mereka memiliki ritual mencuci beras di sungai. Semua orang juga berjalan dengan bertelanjang kaki, membuat mereka bersinggungan langsung dengan sang ibu bumi.

Bagaimana di wilayah Indonesia lainnya? Pasti banyak yang tak kalah uniknya. Tapi ribuan budaya kita yang kaya itu semakin punah. Salah satunya karena kurang pemahaman dan kepedulian terhadap keragaman budaya itu.

Kita harusnya bisa belajar dari Alfred Russel Wallace. Naturalis asal Inggris itu mengakui pentingnya Indonesia sebagai laboratorium hidup karena memiliki ekologi paling beragam di bumi ini.

Selain mengumpulkan ratusan ribu spesimen di Indonesia, perjalanan Wallace menjelajahi nusantara juga menyadarkannya bahwa meskipun pulau Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Lombok berdekatan, tetapi karakteristik satwa-satwanya berbeda. Ia pun berteori bahwa ada garis tak kasat mata membujur yang memisahkan fauna dari pulau-pulau tersebut. Garis itu disebut garis Wallace.

Wallace menginspirasi kita. Bahwa traveling dan ilmu pengetahuan itu berhubungan erat. Apa asyiknya traveling tanpa mempelajari keunikan daerah yang kita kunjungi? Sebagai travel writer, saya akan berbagi cerita keunikan Indonesia di acara Wallacea Week 2018 yang diselenggarakan British Council, AIPI.

Leave A Reply

Your email address will not be published.