Dari Kicauan Presiden Jokowi Hingga Seruan Industrialisasi Desa, Warnai Peringatan Hari Tani

0 19

 

DRADIOQU.COM – JAKARTA ,Bak oase di tengah gurun, diksi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dicuit Presiden Joko Widodo (Jokowi) lewat akun official Twitter miliknya, @jokowi, hari ini (24/9/2018), bikin kita tertegun.

Seolah tahu benar ‘suasana kebatinan’ banyak pemangku, utamanya rakyat agraria Indonesia –petani, pekebun, wirausaha tani, koperasi, bank tani, buruh tani, peternak, urban farmer, buruh tandur, hingga buruh petik–, di momen peringatan Hari Tani atau Hari Agraria Nasional ini, cuitan orang nomor satu di Indonesia itu sejuk, demi menelaahnya.

“Ketika para suami melaut, istri-istri di desa nelayan Polewali Mandar, Sulbar, menanti sambil menenun Lipa’ Sa’be —sutra Mandar yang lalu dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Desa. Bersama BUMDes, mereka jadi pilar kegiatan ekonomi desa,” cuit Presiden, sekira pukul 09.30 WIB, hari ini.

Sehari sebelumnya, Minggu (23/9/2018) lewat akun official-nya di kanal berbagi Youtube, Presiden telah mengunggah video senada. Perempuan-Perempuan Tangguh Polewali Mandar, judul videonya.

Bagi rakyat Lampung, walau hanya berbilang detik, konten video itu terbilang istimewa. Sebab, ada aktivitas unit usaha wisata air BUMDes Mandiri Bersatu, Pekon Gisting Bawah, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus, muncul sekejap tercuplik diunggah Presiden.

Mengingatkan, BUMDes (di Tanggamus disebut BUMPekon sesuai nomenklatur kearifan lokal, Red) tersebut adalah peraih Penghargaan BUMDes Terbaik Tingkat Nasional 2016 dari Kementerian Desa PDTT. Per kini, selain wisata air, BUMDes itu juga mengelola usaha olah sampah, perdagangan umum/ecer, air bersih, simpan pinjam, dan sewa gedung.

Demi tak membuat penasaran Sidang Pembaca, berikut narasi Presiden di video 4,52 menit itu.

“Ketika suami-suami sedang melaut, istri-istri mereka di kampung nelayan pesisir Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, mengisi penantian di anjungan rumah, dengan menenun Lipa’ Sa’be.

Kain sutra Mandar yang indah dan aneka warna itu mereka pasarkan melalui Badan Usaha Milik Desa. Berbulan-bulan menanti suami, mereka bersama BUMDes ikut menjadi penggerak ekonomi desa.

Bukan di Polewali Mandar saja, di seluruh Indonesia kini terdapat sedikitnya 39.149 BUMDes. Warga desa aktif melakukan kegiatan yang bermanfaat dari usaha paving block, wisata desa, air mineral kemasan, budidaya jamur tiram, sampai pengolahan sampah terpadu.

Inilah kisah ketangguhan perempuan-perempuan desa nelayan pesisir Mandar, juga gambaran singkat kiprah BUMDes sebagai pilar kegiatan ekonomi desa.”

Bagi rakyat desa dan rerata mayoritas petani populasinya, video ini penyemangat. BUMDes kini, makin diakui, makin mendapat tempat, sebagai “backbone” baru konsolidasi ekonomi, peningkatan kesejahteraan rakyat desa, dan penuntasan problem pokok masyarakatnya.

“Tak boleh menunggu lama. Ekspos Presiden, dari 74.957 desa, telah 39.149 BUMDes berdiri, dengan segenap keterbatasan sumber daya dan kendala operasionalisasinya. Saran saya, harus didorong gerak majunya dengan industrialisasi desa. Presiden harus canangkan ini, tak bisa lagi ditunda,” Ketua Dewan Pembina Yayasan Desapolitan Indonesia (Desindo) yang juga Ketua Bravo-5 Lampung, Andi Desfiandi, urun bicara.

Berbicara melalui sambungan telepon, Senin (24/9/2018) malam, Andi yang baru saja turut mendeklarasikan perkumpulan inovasi digital, Inovator 4.0 Indonesia Extended Chapter Lampung ini meyakini, industrialisasi desa termasuk digitalisasi ekonomi, bisa jadi salah satu jawaban konkrit mengatasi ketimpangan desa-kota.

“Juga, ujud pemajuan bentukan baru ekosistem ekonomi desa agar naik kelas jadi desapolitan (purna-desa, Red), serta solusi hilirisasi formasi sosial-ekonomi pascaberlaku UU Desa. Agar triple bottleneck, akses modal, akses pasar, akses pakar plus inovasi menjawab Revolusi Industri keempat, bisa segera disunat. Negara wajib hadir, sehadir-hadirmya,” pungkas Andi, didampingi Ketua Dewan Pengurus Zaidirina. [red/mzl]

Leave A Reply

Your email address will not be published.