Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk kembali menghirup udara baru di tahun yang baru

0 134
polri 73

DRADIOQU.COM – Alhamdulillahirobbil’alamin, aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk kembali menghirup udara baru di tahun yang baru pula. Rasanya sungguh nikmat yang begitu luar biasa. Bagaimana tidak? Banyak orang yang mungkin tidak seberuntung diriku. Sebab, kesempatan untuk hidup adalah bonus lebih yang Tuhan berikan untukku. Sekali lagi, aku bersyukur. Meskipun malam tahun baru kemarin dihiasi dengan rerintikan hujan yang tidak kunjung reda, tetap saja aku bahagia.

Memasuki awal tahun yang baru, inilah saatnya aku mengevaluasi segenap daftar impian yang mungkin belum terwujud pada tahun sebelumnya. Bagiku, daftar impian sangatlah penting—khususnya bagi seorang wanita. Seringkali wanita dihalangi untuk bermimpi, hanya karena alasan kodrat. Bagiku, itu sudah tidak berlaku lagi, selama kita masih hidup di zaman emansipasi. Permulaan tahun yang baru juga menjadi langkah awal bagiku untuk menuliskan berlembar-lembar impian, yang aku semogakan akan tercapai satu demi satu selama satu tahun ke depan.

Aku menargetkan 50 impian di tahun 2019 ini—sangat bervariasi—mulai dari karier, percintaan, studi, hingga bisnis. Dari sekian banyak mimpi-mimpi tersebut, salah satunya adalah melanjutkan pendidikan pascasarjanaku. Ya, lagi-lagi aku bersyukur karena Tuhan telah memberi kesempatan kepada gadis desa ini untuk tamat pendidikan sarjana pada Bulan Oktober kemarin. Dan kini, semangatku untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi masih terus membara—seperti membaranya dukungan ibu kepada diriku.

Mengapa aku masih bersemangat untuk belajar? Sebab, ibuku selalu memantikkan asa kepada anak gadisnya agar bersekolah setinggi mungkin—jangan sampai seperti ibunya yang hanya lulusan SD. Harapannya itu seolah adalah sumber mata air di gurun yang mengguyur dahaga para musafir. Inilah hal kedua yang paling aku syukuri—memiliki ibu yang kehadirannya seperti jantung di dalam tubuhku. Ketika ia tiada, maka seketika tubuhku juga akan kaku dan membiru.

Ratri Kurnia Wardani – Tangerang

Leave A Reply

Your email address will not be published.