Terputar

Title

Artist


 Rukyatul Hilal merupakan salah satu petunjuk datangnya bulan Ramadan. Selain rukyatul hilal, ada juga hisab

Ditulis oleh pada Maret 22, 2023

Rukyatul Hilal merupakan salah satu petunjuk datangnya bulan Ramadan. Selain rukyatul hilal, ada juga hisab. Kedua metode tersebut dipakai oleh pemerintah sebagai metode untuk menentukan awal bulan Ramadan melalui putusan sidang isbat. Apa itu metode rukyatul hilal dan hisab?

Dalam bahasa Arab, Hilal (هِلال) adalah bulan sabit atau bulan yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah. Awal penentu masuknya bulan Ramadan. Dalam kebudayaan Arab, bulan sabit digunakan untuk menandakan hujan pertama dalam musim.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, hilal yaitu bulan sabit, bulan yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah. Adapun hilal bisa diamati selepas matahari terbenam.

Sementara rukyat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online artinya, perihal melihat bulan tanggal satu untuk menentukan hari permulaan dan penghabisan puasa Ramadan. Penentuan hilal untuk melihat awal bulan Ramadan juga berdasar dari Surat Al-Baqarah ayat 185. Begini bunyinya :

”Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.”

Umat Islam yang akan menyambut bulan Ramadan berlomba menuju tempat yang tinggi atau lapang untuk memastikan keberadaan hilal pada ufuk barat. Tepatnya pada setiap 29 Syaban dan 29 Ramadan. Apabila hilal terlihat, maka malam tersebut merupakan tanggal pertama bulan setelahnya, Namun, bila hilal tidak terlihat maka malam tersebut digenapkan menjadi malam ketiga puluh bulan yang sedang berlangsung.

Menurut mayoritas ulama, jika seorang yang ‘adl (saleh) dan terpercaya melihat hilal Ramadan, beritanya diterima. Dalilnya adalah hadis Ibnu‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

”Apabila bulan telah masuk kedua puluh sembilan malam (dari bulan Syaban, pen). Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal. Dan apabila mendung, sempurnakanlah bulan Syaban menjadi tiga puluh hari.”

Metode Melihat Hilal

Untuk melihat hilal ada dua metode, yakni rukyatul hilal dan hisab. Berikut penjelasan lengkapnya.

Rukyatul Hilal
Rukyatul hilal merupakan metode penetapan awal Ramadan dan Syawal berdasarkan pengamatan bulan. Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan menggunakan metode hilal untuk menentukan 1 Ramadan 144 H, dilakukan atas dasar keputusan Muktamar ke–30 NU tahun 1999 di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, maka rukyah hilal akan digelar di seluruh Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah hukum.

Selain itu, arahan menggunakan metode rukyatul hilal terdapat dalam Surat Al Baqarah ayat 189:

Lafaz Arab

يَسۡـــَٔلُوۡنَكَ عَنِ الۡاَهِلَّةِ ؕ قُلۡ هِىَ مَوَاقِيۡتُ لِلنَّاسِ وَالۡحَجِّ ؕ وَلَيۡسَ الۡبِرُّ بِاَنۡ تَاۡتُوا الۡبُيُوۡتَ مِنۡ ظُهُوۡرِهَا وَلٰـكِنَّ الۡبِرَّ مَنِ اتَّقٰى‌ۚ وَاۡتُوا الۡبُيُوۡتَ مِنۡll اَبۡوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

Arab Latin : Yas’aluunaka ‘anil ahillati qul hiya mawaaqiitu linnaasi wal Hajj; wa laisal birru bi an taatul buyuuta min zuhuurihaa wa laakinnal birra manit taqoo; waatul buyuuta min abwaa bihaa; wattaqullaaha la’allakum tuflihuun

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji…”

Metode Hisab
Hisab merupakan metode yang menghitung posisi benda langit khususnya matahari dan bulan. Hisab menurut ilmu fikih menyangkut pada penentuan waktu-waktu ibadah, digunakan dalam arti perhitungan waktu dan arah tempat. Biasa digunakan untuk pelaksanaan ibadah seperti penentuan waktu salat, puasa, Idul Fitri, hingga waktu haji.

Metode hisab dilakukan berdasarkan gerak matahari dan bulan, hal itu tercantum di surat Ar Rahman ayat 5 serta surat Yunus ayat 5.

Surat Ar Rahman ayat 5

Lafaz Arab

اَلشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُ بِحُسۡبَانٍ

Arab Latin : Ashshamsu walqamaru bihusbaan

Artinya: “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan”

Surat Yunus ayat 5

Lafaz Arab

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ .

Arab Latin : Huwallażī ja’alasy-syamsa ḍiyā’aw wal-qamara nụraw wa qaddarahụ manāzila lita’lamụ ‘adadas-sinīna wal-ḥisāb, mā khalaqallāhu żālika illā bil-ḥaqq, yufaṣṣilul-āyāti liqaumiy ya’lamụn

Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”

Demikian pengertian dari metode rukyatul hilal dan juga hisab yang dijadikan sebagai penentu masuknya awal bulan Ramadan yang akan diputuskan dari sidang isbat oleh pemerintah.


Pendapat pembaca

Tinggalkan balasan