Terputar

Title

Artist


Olah Sampah Residu Menjadi Produk Potdasi

Ditulis oleh pada Januari 5, 2022

 

Mengolah sampah residu menjadi hasil karya yang bernilai ekonomis diwujudkan melalui pembuatan Pot Daur Ulang Sampah Residu (Potdasi). Dengan mengedepankan kreativitas dan pemanfaatan sampah residu maka menghasilkan produk yang berkualitas seperti halnya Potdasi.

Hasil olahan sampah residu tersebut merupakan gagasan dari jajaran Sudin Lingkungan Hidup (LH) Kota Administrasi Jakarta Utara sebagai tindak lanjut dari Instruksi Gubernur (Ingub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 107 Tahun 2019 Tentang Pengurangan dan Pemilahan Sampah di Lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Kita kumpulkan dan olah sampah residu seperti kain, kaos, sprei, kaleng, dan lain-lain untuk dikreasikan menjadi Potdasi. Itu sebagai salah satu strategi untuk pengurangan sampah ke TPST Bantar Gebang dan sirkular ekonomi. Nanti akan kita kembangkan dan adakan pelatihan cara pembuatan Potdasi bagi anggota Karang Taruna, kader PKK, Dasawisma, dan lainnya,” terang Kasudin LH Kota Administrasi Jakarta Utara, Achmad Hariadi saat dikonfirmasi, Rabu (5/1).

Saat ini, produk Potdasi juga sudah terdaftar dalam program JakPreneur dan BORJU. “Kami mencoba dalam bentuk yang sedikit berbeda dan jajaran Sudin LH Kota Administrasi Jakarta Utara ingin memberikan semangat dan gairah agar Ingub Nomor 107 Tahun 2019 bisa berjalan dengan baik dan membawa manfaat,” ungkapnya.

Dalam waktu satu hari, para perajin Potdasi dari Sudin LH Kota Administrasi Jakarta Utara bisa menghasilkan sepuluh Potdasi yang dikreasikan bentuknya menyerupai batang pohon. “Secara konsentrasi penuh bisa menghasilkan sepuluh Potdasi dalam sehari dengan melibatkan empat orang tenaga inti,” jelas petugas Sudin LH Kota Administrasi Jakarta Utara, M.Ikhwan.

Proses pembuatan Potdasi tergolong mudah dan sederhana yang hanya menggunakan barang-barang bekas seperti limbah kaleng cat, galon air mineral, kain, kaos, celana, dan sprei sebagai bahan dasarnya. Kemudian dicampur dengan semen dan pasir yang selanjutnya dibentuk menyerupai batang potong. Setelah itu di cat dengan menggunakan warna kulit pohon dan dikeringkan.

“Alhamdulillah sudah ada konsumennya dan setiap ada pesanan langsung kita kerjakan. Untuk harga jualnya cukup bervariasi mulai dari dari Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu. Kita jual secara online dan manual dengan menawarkan langsung ke teman-teman dan lingkungan terdekat,” ujar M.Ikhwan.


Pendapat pembaca

Tinggalkan balasan