Terputar

Title

Artist


Tahun 2021, Mestro Dwiki Dharmawan mengurat sejarah penting untuk kariernya

Ditulis oleh pada Desember 27, 2021

Tahun 2021, Mestro Dwiki Dharmawan mengurat sejarah penting untuk kariernya. Kali ini bersama musisi kolintang muda Ferdinand Soputan keduanya melahirkan album berjudul Duo Kolintang “The Sounds From Minahasa”.

“Karya ini lahir dari hati nurani untuk memperkenalkan kecantikan karya seni dari Minahasa. Dilatarbelakangi keinginan kami untuk mengeksplorasi salah satu musik khas Minahasa yaitu kulintang!” ungkap Dwiki Dharmawan dalam keterangannya yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (25/12/2021).

Kolintang sendiri, menurut Dwiki tengah dalam proses menuju Unesco, sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia, tepatnya dari suku Minahasa

Dwiki mengemukakan, “karya seni daerah memiliki nilai luhur yang sangat penting dalam pertumbuhan karya seni di Indonesia. karya-karya tersebut menjadi pusaka yang memiliki nilai besar yang patut diperhitungkan di dunia internasional dan bersanding dengan karya musik dunia.

“Jika kita menengok ke masa lalu, kita akan menemukan musik kolintang dengan sejarah panjang, yang sarat dengan kekhasan atau memiliki keunggulan tertentu, dengan sentuhan irama musik yang bisa menjadi magnet,” kata Dwiki lagi.

Dwi mengatakan, kolaborasinya bersama Ferdinand Soputran pun lahir. Dengan mengangkat kekuatan magis yang mampu menunjukan sebuah kualitas seni yang apik, akhirnya album Duo Kolintang “The Sounds from Minahasa”.

Album ini berisi 12 lagu yakni “O Ina Ni keke”, “Tahanusang Sangihe”, “Oh Minahasa”, “Si Patokaan”, “Ampar-Ampar Pisang – Cik-cik Periok” (medley), “Manuk Dadali”, “Rasa Sayange”, “From Indonesia with Love” (medley lagu-lagu Nusantara),

“Karya kami ini adalah wujud dari pemajuan kebudayaan, karena Indonesia merupakan negeri yang kaya akan budaya. Karena kekayaan itulah, saya bersama Ferdi, mencoba berkarya bersama dengan berkolaborasi, sebagai bagian awal kami untuk melahirkan karya yang lebih lengkap lagi,” tegas Dwiki.

Sejumlah lagu dalam album ini merupakan lagu daerah yang kemudian memiliki nafas baru, sebagai bagian mengembangkan budaya daerah.

Ke depan Dwiki merancang, ini tidak hanya berhenti di kolintang, akan ada beragam alat musik yang akan menjadi trobosan menarik dalam mengembangkan seni musik di Indonesia.

“Mengapa baru terbatas, karena kami baru mengolaborasikan piano dan kolintang melodi. Ke depan kami akan mengolaborasikan piano dengan ansambel musik kolintang kayu yang lengkap,” tambah Dwiki.

Dalam proses kreatif mengerjakan album ini, tak lepas dari dukungan sosok yang selalu menunjang dan menyokong kerja-kerja seni termasuk di bidang kolintang, yaitu Penny Marsetio yang juga merupakan Ketua Persatuan Insan Kolintang Nasional (Pinkan) Indonesia.

Menurut Penny, kolintang harus terus bergaung, ke seantero Indonesia, bahkan mancanegara, maka penciptakan karya musik kolaboratif ini tentu menjadi salah satu upaya untuk menggaungkan kolintang itu, “biarin kolintang itu bunyi terus, seperti aslinya: tong ting tang,” kata Penny.

Sementara itu Ferdinand menyebut, “album rekaman ini merupakan langkah pertama kami, dalam upaya bukan hanya menjawab tantangan global terkait adanya perubahan dalam segala segi kehidupan, tetapi juga membuktikan bahwa musik kolintang itu sangat terbuka. Saya berpikir juga bahwa musik musik berbasis tradisi dari daerah lain, memiliki kekhasan yang sama,” kata Ferdinand.

Ferdinand yang merupakan Master Kajian Seni jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini menyebut perjalanan mereka dalam proses rekaman dan proses penulisan buku ini, memperjelas dan mempertegas bahwa kita harus berubah.

“Dan kita jugalah yang harus membawa perubahan pada sebuah kebudayaan, peradaban, dan seni musik itu, karena kita sebagai subjek menjadi penentu perubahan itu,” paparnya.

Di sisi lain, Ambrosius Loho, yang merupakan Dosen Universitas Katolik De la Salle Manado, selaku editor menyatakan Kerja seni atau kerja budaya ini merupakan proses pengaplikasian nilai-nilai universal musik tradisional.

”Nilai-nilai itu nyata lewat keselarasan dalam memainkan dan menyaksikan (memberi perhatian) pada musik kolintang. Melalui keselarasan, kita bukan hanya mulai berusaha mengundang dimensi spiritual (motivasi dan semangat), tapi juga menyatukan diri dengan spirit kolektif (kebersamaan yang selaras) dan spirit kosmik (alam semesta),” tambahnya.

Audio maupun video sudah dapat dinikmati pada semua platform digital streaming seperti Spotify, Apple Music, Deezer, JOOX, Resso, Langit Musik, YouTube dan lain-lain.


Pendapat pembaca

Tinggalkan balasan