Terputar

Title

Artist


Uzbekistan adalah satu dari hanya dua negara besar yang sukses terhindar dari resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19

Ditulis oleh pada November 17, 2021

Uzbekistan adalah satu dari hanya dua negara besar yang sukses terhindar dari resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19 tahun lalu.

Laju pertumbuhan produk domestik bruto Uzbekistan sempat melambat ke 1,7% tahun kemarin, tetapi pada semester pertama tahun ini bisa langsung bangkit dengan angka pertumbuhan 6,2%.

Dalam laporan terakhirnya yang diterbitkan Oktober, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Uzbekistan 6,2% sepanjang 2021 dan 5,8% pada 2022.

Pertumbuhan ekonomi yang luar biasa dalam konteks pandemi ini dipicu oleh peningkatan pendapatan rumah tangga, investasi dalam negeri, stimulus ekonomi, dan keringanan pajak, menurut analisis Bank Dunia.

Pada dasarnya pembangunan ekonomi Uzbekistan telah mengalami kemajuan pesat sejak Presiden Shavkat Mirziyoyev menggantikan Islam Karimov yang meninggal pada 2016.

Presiden Shavkat membuka perekenomian ke investor global, menghapus pembatasan-pembatasan di sektor swasta yang diterapkan pendahulunya, dan melakukan diversifikasi ekonomi.

Kemampuan ekonomi Uzbekistan untuk bisa segera bangkit dari krisis Covid-19 cukup menakjubkan mengingat negara itu tidak punya sumber daya kelautan atau landlocked country dan hanya mengandalkan aktivitas ekonomi daratan.

“Tentu kami berharap bisa punya akses ke laut terbuka atau samudera. Jika Uzbekistan punya sumber daya kelautan, ekonomi kami pasti akan jauh lebih maju lagi,” kata Sekretaris Kedutaan Besar Uzbekistan di Indonesia, Muzaffar Abduazimov, saat berkunjung ke kantor redaksi Beritasatu Media Holdings, Selasa (16/11/2021).

“Namun tentu kami tidak boleh hanya berdiam diri dan mengeluhkan kondisi geografis kami,” tambahnya.

Dalam upaya merubuhkan batasan geografis, sebagai contoh, pemerintah Uzbekistan menginisiasi Trans-Afghan Railway yang akan menghubungkan Uzbekistan, Afghanistan, dan Pakistan.

Tiga negara tersebut bertemu di Tashkent, ibu kota Uzbekistan, pada Februari lalu untuk menyetujui proyek tersebut.

Proyek kereta api lintas negara ini terbilang ambisius, dengan panjang hingga 573 kilometer dan melintasi pegunungan Afghanistan setinggi 3.500 meter dari pemukaan laut, jalur kereta tertinggi di dunia.

“Jika proyek ini rampung, kami akan terhubung dengan Asia Selatan, dan dari sana akan tersambung ke Asia Tenggara,” kata Muzaffar.

Dia menambahkan bahwa pemerintah Uzbekistan sangat fokus dalam pembangunan ekonomi dan infrastruktur. Politik dalam negeri dan kebijakan luar negeri selalu bermuara pada satu hal: kesejahteraan rakyat Uzbekistan, tegasnya.

Sektor Ritel
Saat ini sektor ritel di Uzbekistan tengah maju pesat dan berkontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi.

Menurut Intellinews, media bisnis yang fokus pada perekonomian negara berkembang khususnya di Asia Tengah, sektor ini menghasilkan investasi asing puluhan juta dolar di Uzbekistan, termasuk dari Eropa Barat dan Rusia.

Bank Rekonstruksi dan Pembangunan Eropa (European Bank of Reconstruction and Development/EBRD) dikabarkan telah menggelontorkan US$ 40 juta untuk membeli saham Korzinka, jaringan supermarket terbesar di Uzbekistan, sementara perusahaan grosir asal Prancis Carrefour bermaksud menanamkan modal US$ 100 juta.

Carrefour menjadi retailer asing pertama yang masuk Uzbekistan tahun lalu, dengan membuka tiga toko dan berencana menambah empat atau enam lagi tahun ini.

Korzinka akan menambah outlet dari 68 menjadi 150 sampai 2025 nanti. Makro, retailer lokal dengan jumlah toko terbanyak di Uzbekistan, berniat menambah tokonya hingga 800-1.000 dalam lima tahun ke depan, dari sekarang ini 109 toko.

Retailer Rusia, Fix Price, dan jaringan supermarket Belarusia, Baraka Market, berencana membuka ratusan toko kecil di Uzbekistan.

Perekonomian Uzbekistan juga tidak meninggalkan sektor pertanian karena negara itu memiliki sejumlah komoditas unik yang bisa dijual ke negara lain.

Contohnya adalah wortel berwarna kuning, kata Muzaffar, yang juga mengklaim bahwa buah ceri dan stroberi Uzbekistan adalah yang terbaik di dunia.

Uzbekistan menjajaki ekspor pisang, nanas, dan cabe kering ke Indonesia, imbuh Sherzod Ismailov, Konsul Dagang Kedutaan Besar Uzbekistan yang juga hadir di ruang redaksi.

Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Uzbekistan masih belum signifikan, sekitar US$ 30 juta tahun lalu dengan defisit di pihak Indonesia.


Pendapat pembaca

Tinggalkan balasan