Terputar

Title

Artist


Pasukan operasi khusus Amerika Serikat (AS) telah diam-diam melatih pasukan Taiwan

Ditulis oleh pada Oktober 9, 2021

Pasukan operasi khusus Amerika Serikat (AS) telah diam-diam melatih pasukan Taiwan selama berbulan-bulan. Pemerintah Tiongkok bereaksi dengan peringatan bahwa langkah tersebut dapat menyebabkan kerusakan serius pada hubungan antara AS dan Tiongkok.

Sebuah kontingen dengan sekitar 20 operasi khusus dan pasukan konvensional telah melakukan pelatihan selama kurang dari setahun. Hal ini disampaikan pejabat Pentagon, yang menolak disebutkan namanya, kepada AFP. Sumber tersebut menambahkan, beberapa pelatih telah bergantian masuk dan keluar.

Pejabat itu sebagian besar mengkonfirmasi laporan Wall Street Journal yang mengatakan pelatihan telah berlangsung selama setidaknya satu tahun, di tengah meningkatnya ancaman verbal pemerintah Tiongkok terhadap pulau sekutu AS tersebut.

Pihak berwenang Tiongkok telah menentang Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri, namun dipandangnya sebagai wilayahnya sendiri yang akan direbut suatu hari nanti, dengan paksa jika perlu. Tiongkok telah mengadakan pertukaran diplomatik secara resmi dan secara agresif mencoba menghalangi politisi mengunjungi Taiwan dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Tiongkok bereaksi dengan marah terhadap laporan tersebut pada Jumat (8/10). Kementerian Luar Negeri Tiongkok memberi peringatan bahwa AS harus mengakui sensitivitas tinggi dari situasi Taiwan dan bahaya serius dari tindakannya.

“AS harus … menghentikan penjualan senjata ke Taiwan dan hubungan militer AS-Taiwan, agar tidak merusak secara serius hubungan Tiongkok-AS serta perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian dalam sebuah pengarahan, Jumat (8/10/2021).

“Tiongkok akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan dan integritas teritorialnya,” tegasnya.

Kementerian Pertahanan Taiwan menolak mengomentari laporan tersebut. Tetapi juru bicara Pentagon John Supple mengatakan bahwa secara umum, dukungan pemerintah AS untuk militer Taiwan diukur dari kebutuhan pertahanannya.

“Dukungan kami untuk dan hubungan pertahanan dengan Taiwan tetap selaras melawan ancaman saat ini yang ditimbulkan oleh Republik Rakyat Tiongkok,” kata Supple dalam pernyataan jawaban.

Media Taiwan melaporkan pada November 2020, mengutip Komando Angkatan Laut Taiwan, bahwa pasukan AS telah tiba di sana untuk melatih marinir pulau dan pasukan khusus dalam operasi kapal kecil dan operasi amfibi.

Namun laporan tersebut kemudian dibantah oleh pejabat AS dan Taiwan, yang menekankan bahwa kedua belah pihak hanya terlibat dalam pertukaran dan kerja sama militer bilateral.

Hingga saat ini, pemerintah AS memasok senjata ke Taiwan, termasuk rudal untuk pertahanan dan jet tempur. Upaya ini dilakukan untuk melawan Tiongkok, yang telah mengancam akan secara paksa merebut kembali kendali pulau itu dan menyatukannya dengan Tiongkok.

Pemerintah AS juga mempertahankan komitmen ambigu untuk membela Taiwan.

Sebuah video yang dirilis tahun lalu dan ditampilkan di media Taiwan menunjukkan pasukan AS mengambil bagian dalam latihan di pulau yang dijuluki Balance Tamper.

Pasukan Tiongkok telah meningkatkan aktivitas mereka menuju Taiwan tahun lalu, melakukan latihan serangan laut, dan menerbangkan pesawat pengebom maupun pesawat tempur dalam jumlah besar di dekat wilayah udara Taiwan.

Menteri Pertahanan Taiwan mengatakan pada Rabu (6/10) bahwa ketegangan militer antara pulau itu dan Tiongkok berada di puncak tertinggi dalam empat dasawarsa. Sebelumnya, sekitar 150 pesawat tempur milik Tiongkok, sebuah rekor jumlah, melakukan serangan ke wilayah zona pertahanan udara Taiwan dalam beberapa hari terakhir.

Ia memperingatkan, bahkan sedikit kecerobohan atau salah perhitungan dapat memicu krisis. Pemerintah Tiongkok, katanya, akan berada dalam posisi untuk meluncurkan invasi skala penuh dalam empat tahun.

Kecam Kunjungan Prancis

Sementara itu, pemerintah Tiongkok juga mengecam kunjungan sekelompok senator Prancis ke Taiwan, menuduh delegasi merusak hubungan antara Prancis dan Tiongkok.

Delegasi Prancis dipimpin oleh mantan menteri pertahanan Prancis Alain Richard. Utusan tersebut tiba di Taiwan sejak Rabu untuk kunjungan lima hari, meskipun ada peringatan dari pemerintah Tiongkok.

Richard menyebut Taiwan dengan sebutan “negara” dalam pidatonya, setelah pertemuan dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen.

Zhao mengatakan penggunaan istilah “negara” oleh Richard telah secara terang-terangan melanggar praktik internasional. Ia juga mendesak pemerintah Prancis untuk menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Tiongkok.


Pendapat pembaca

Tinggalkan balasan