Terputar

Title

Artist


Menteri Keuangan (Menkeu) Inggris,mengakui, mengakhiri skema cuti pandemi yang membuat jutaan orang dipekerjakan berarti akan kehilangan pekerjaan

Ditulis oleh pada Oktober 5, 2021

Perdana Menteri (PM) baru Jepang Fumio Kishida mengumumkan kabinet pemerintahannya pada hari Senin ini

Menteri Keuangan (Menkeu) Inggris pada Senin (4/10/2021) mengakui, mengakhiri skema cuti pandemi yang membuat jutaan orang dipekerjakan berarti akan kehilangan pekerjaan. Namun pemerintah akan mengumumkan dukungan baru bagi pekerja.

Menteri Keuangan Rishi Sunak, kanselir bendahara, akan mengumumkan paket pelatihan ulang sebesar £ 500 juta (US$ 680 juta atau 580 juta euro).

Bantuan tersebut ditujukan untuk pekerja yang lebih tua yang keluar dari masa cuti dan untuk warga Inggris yang lebih muda, menurut keputusan partai konservatif.

Pemerintah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah menghabiskan hampir £ 70 miliar untuk membayar sebagian besar gaji staf yang dalam penguncian di rumah, membantu menjaga tingkat pengangguran resmi relatif rendah.

Tetapi Sunak mengakhiri skema cuti pada Kamis (7/10/2021) dan menghapus tunjangan mingguan bagi pekerja dengan upah terendah.

Dia menegaskan bahwa inilah saatnya untuk beralih ke dukungan jangka panjang. Keputusan tersebut melawan keberatan oleh partai-partai oposisi dan pengkampanye bahwa perubahan akan menjerumuskan banyak orang lebih dalam ke jurang kemiskinan.

“Saya katakan tepat di awal krisis ini, tidak akan mungkin bagi saya atau sejujurnya kanselir manapun untuk menyelamatkan pekerjaan setiap orang,” kata Sunak kepada Sky News, Senin (4/10).

“Kita memiliki tingkat pengangguran yang lebih rendah di sini di Inggris daripada Amerika Serikat (AS), Kanada, Prancis, Spanyol, Italia, di antara yang lainnya, dan ada rekor jumlah lowongan pekerjaan,” tambahnya.

Bantuan tahap pertama rencananya telah melindungi 11 juta pekerjaan melalui skema cuti. Ia mengatakan, pemerintah Inggris sekarang mengalami salah satu pemulihan terkuat dan tercepat dari semua ekonomi utama di dunia.

“Tetapi pekerjaan belum selesai dan saya ingin memastikan ekonomi kita sehat untuk masa depan. Dan itu berarti memberikan dukungan maupun keterampilan yang dibutuhkan orang untuk bekerja dan melanjutkan hidup,” katanya dalam sebuah pidato untuk konferensi tahunan Partai Konservatif.

Meski demikian, para pengunjuk rasa konferensi di Manchester, barat laut Inggris, menuduh Konservatif mengabaikan orang miskin.

“Anak-anak lapar. Bagaimana bisa di abad ini? Kami di sini karena kami harus melakukan sesuatu untuk menyampaikan rasa muak kami,” ujar pensiunan guru Lorraine Thompson kepada AFP, Minggu (3/10/2021).

Data resmi pekan lalu menunjukkan ekonomi Inggris rebound lebih kuat dari yang diharapkan di kuartal II-2021.

Tetapi indikator terpisah menunjukkan perlambatan pertumbuhan, karena negara tersebut berjuang dengan hambatan rantai pasokan dan tekanan inflasi global yang membuat harga bahan bakar meroket.

Pemerintah menghadapi serentetan aksi beli panik di pompa bensin yang disebabkan oleh kekurangan pengemudi tanker, dan telah memobilisasi anggota militer untuk membantu distribusi bahan bakar.

Bisnis menyalahkan kekurangan pengemudi pada pendekatan garis keras pemerintah terhadap Brexit, yang menghentikan arus pekerja dari Eropa timur. Tetapi para menteri mengatakan pandemi yang menyebabkan kondisi tersebut.

Dalam pesan konferensi yang optimis kepada pendukung Konservatif, Johnson berjanji untuk terus maju mendukung rencana pemulihan pasca Covid-19. Menurutnya strategi itu akan membangun kembali ekonomi dengan lebih baik di berbagai bidang, mulai dari infrastruktur hingga perubahan iklim.

Diwawancarai oleh BBC pada akhir pekan lalu, ia menolak untuk mengembalikan Inggris ke ekonomi pra-Brexit yang menurutnya rusak karena terlalu bergantung pada tenaga kerja asing yang murah.

Johnson dan Sunak juga berada di bawah tekanan dari kubu kanan Konservatif karena menaikkan beban pajak Inggris, dalam bagian untuk menangani krisis perawatan lansia.

 


Pendapat pembaca

Tinggalkan balasan