Terputar

Title

Artist


Korut menembakkan peluru kendali (rudal) jarak pendek yang diduga diarahkan ke laut

Ditulis oleh pada September 29, 2021

Korea Utara (Korut) menembakkan peluru kendali (rudal) jarak pendek yang diduga diarahkan ke laut pada Selasa (28/9/2021), kata militer Korea Selatan (Korsel). Duta besar Korut untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersikeras, pihaknya memiliki hak yang tidak dapat disangkal untuk menguji coba senjatanya.

Proyektil itu ditembakkan dari provinsi utara Jagang ke perairan lepas pantai timur, menurut Kepala Staf Gabungan Korsel. Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Jepang mengatakan kepada AFP bahwa peluru tampak seperti rudal balistik.

Kurang dari satu jam kemudian, Duta Besar Korut untuk PBB Kim Song memberi pernyataan kepada Majelis Umum PBB di New York. “Tidak ada yang bisa menyangkal hak membela diri untuk DPRK,” tuturnya pada Selasa, menggunakan nama resmi Korut.

Itu adalah yang terbaru dari serangkaian pesan campuran dari Korut. Peluncuran tersebut dilakukan hanya beberapa hari setelah saudara pemimpin Korut Kim Jong Un, Kim Yo Jong yang bekerja sebagai penasihat kunci, menggantungkan prospek hubungan puncak antar-Korea.

Tetapi ia menyampaikan ketidakberpihakan dan saling menghormati akan diperlukan, menyerukan agar Korsel berhenti melontarkan komentar kurang ajar.

Dia mengecam apa yang disebutnya standar ganda, juga melontarkan kritik kepada Korsel dan AS terhadap perkembangan militer Korut, sementara sekutu membangun kapasitas mereka sendiri.

Pemerintah AS mengutuk peluncuran terbaru tersebut. Departemen Luar Negeri AS menyebutnya sebagai ancaman bagi negara tetangga Korut dan komunitas internasional. “Pelanggaran beberapa Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” tukasnya.

Presiden Korsel Moon Jae-in yang hanya tinggal beberapa bulan lagi menjabat, menegaskan kembali Majelis Umum di PBB menyerukan deklarasi resmi untuk mengakhiri Perang Korea.

Otoritas Korut menginvasi Korsel pada tahun 1950 dan permusuhan berhenti tiga tahun kemudian dengan gencatan senjata dan bukan perjanjian damai. Secara teknis, kedua negara masih dalam keadaan konflik.

Korut berada di bawah beberapa set sanksi internasional atas program terlarangnya untuk mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik.

Dalam pidatonya di Majelis Umum, duta besar Kim Song mengatakan Korut memiliki hak untuk mengembangkan, menguji, memproduksi, dan memiliki sistem senjata yang setara dengan yang dimiliki Korsel dan sekutunya AS.

“Kami hanya membangun pertahanan nasional kami untuk membela diri dan menjaga dengan andal keamanan dan ketentraman negara,” ujarnya.


Pendapat pembaca

Tinggalkan balasan