Terputar

Title

Artist


Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 Kemerdekaan RI akan dirayakan secara berbeda di Flores

Ditulis oleh pada Agustus 14, 2021

Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 Kemerdekaan RI akan dirayakan secara berbeda di Flores dan merupakan kado pulau itu untuk negara dan seluruh rakyat Indonesia. Sebuah parade musik virtual yang diberi nama Flores The Singing Island Festival akan digelar pada Selasa (17/8/2021). Parade musik ini dapat dinikmati pukul 14.00 WIB melalui kanal Youtube Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf). Pada keesokan harinya, parade ini akan disiarkan melalui kanal Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo FLores (BPOLBF) dan kanal Nestornation yang merupakan kanal pribadi musisi neotradisi asal NTT sekaligus penggagas festival ini, Ivan Nestorman.

Berbeda dengan rencana awal yang akan menampilkan 10 ribu penyanyi yang akan tampil secara simultan dari kabupaten-kabupaten di Flores, festival ini hanya dapat dinikmati secara virtual melalui platform medsos terutama Youtube. Meski demikian, masyarakat Flores diharapkan turut serta bernyanyi dari rumah mereka masing-masing lagu tema festival yang sudah disebarkan. Suguhan virtual ini merupakan pilihan terbaik saat ini ditengah pandemi yang melanda dunia.

Direktur Utama BPOLBF Shana Fatina menyatakan dukungan institusi yang dipimpinnya atas terselenggaranya Flores The Singing Island Festival. Dikatakan sudah saatnya keindahan budaya Flores diperkenalkan ke masyarakat luas.

“Flores sudah dikenal tentang keindahan alamnya, kini saatnya budayanya yang luarbiasa diperkenalkan,” katanya.

Ivan Nestorman berharap Flores The Island Singing Festival memberi brand baru kepada pulau Flores. Tak hanya alam yang indah, Flores juga merupakan pulau bernyanyi atau the singing island.

“Festival ini melibatkan 100-an lebih pemusik Flores baik dari pulau Flores maupun diaspora,” katanya.

Pernyataan Ivan bahwa Flores adalah pulau bernyanyi bukanlah tanpa dasar. Jaap Kuns, seorang etnomusikolog asal Belanda pernah mampir di Flores dan merekam musik-musik di sana sekitar tahun 1930. Meski datang dengan harapan tinggi ke pulau itu, tetap saja Jaap terkagum-kagum melihat kenyataan musikal yang dijumpai di Flores baik berupa alat musik maupun ragam nyanyian masyarakat yang unik.

Bahkan, ketika mengikuti sebuah festival di Yugoslavia, Jaap langsung teringat Flores lantaran musik yang didengarnya sama dengan yang didengarnya di Flores Timur. Dari hal tersebut, Jaap menyimpulkan pelaut-pelaut Portugis mempunyai banyak kru kapal dari Eropa Timur yang lebih murah bayarannnya. Saat berada di Flores, terjadi pertemuan yang cukup intens antara budaya kru-kru kapal itu dengan budaya Pulau Flores.

 


Pendapat pembaca

Tinggalkan balasan